Bila kujabarkan tentang wanita tegar ini, ku tak tahu harus menulis apa. Bingung ingin menggambarkan dia seperti apa. Namun yang pasti semakin aku mengenalnya, semakin aku merasakan ketulusan hatinya.

Hari itu matanya tampak berkaca seolah ingin berkata aku tak bisa. Sekian lama aku mengenalnya tak pernah aku melihatnya begitu terluka. Senyum ketulusan selalu dia pancarkan. Tapi hari itu, yang kulihat hanyalah wajah sendu menatap kesedihan. Dengan kerudung hitam yang dikenakannya siang itu, tak seperti biasanya dia mencoba menceritakan segalanya. Berusaha untuk tidak menangis, tapi air mata itu tetap saja tertumpah. Nora, sahabat terbaikku kini menangis dihadapanku. Mamanya sedang terbaring lemah di rumah sakit, mama yang telah membesarkannya, yang begitu dia sayangi dan dia hormati. Mama yang menentang keras saat dia ingin mengenakan pakaian muslimah ini. Jilbab yang kini tak pernah ingin dia tanggalkan. Ya, kini mama terbaring lemah karena  tumor kista yang diderita. Nora hanya menangis terisak-isak , aku dan dua sahabatku berusaha menenangkannya.

Aku ingat betul bagaimana mamanya menentang keras Nora memakai jilbab. Walaupun demikian Nora tetap menghormati mama. Dulu, rumah Nana tempat dia berganti pakaian dari rumah ke sekolah. Singgah sebentar ke rumah ningsih untuk memakai jilbab, dan saat pulang ke rumah Nora lepaskan lagi jilbab itu demi untuk menghormati sang mama. Nora, memperjuangkan jilbab yang dia kenakan dengan sekuat tenaga, tanpa bermaksud melukai mama. Sampai akhirnya mama menerima dia menggunakan jilbab walau hanya saat keluar rumah.  Ya, jika dibandingkan dengan aku yang dengan mudah keluargaku menerima aku menggunakan jilbab.

Jika ingat semua pengorbanan Nora untuk sehelai kain ini, kadang aku sangat mengutuk orang-orang yang membuka jilbabnya hanya karena keraguan atau mencari pekerjaan. Mereka tidak tahu betapa sulitnya memperjuangkan sehelai jilbab ini, mereka tidak tahu betapa sulitnya wanita-wanita terdahulu mempertahankan pakaian takwa ini. Diusir oleh keluarga, di berhentikan dari sekolah, dicaci masyarakat, bahkan lebih banyak lagi. Termasuk perjuangkan saudaraku Nora.

Ya, itu adalah sebuah perjuangan yang tak akan mampu aku gambarkan seutuhnya. Kini Nora berada dihadapanku sambil menangis. Nora berusaha menahan tangisnya namun tetap tak bisa. Mama sedang terbaring lemah. Lalu dia berkata dengan pelan

“Ukh, Nora sayang mama… tapi kenapa saat mama sakit seperti ini, papa malah menduakan mama”

Tersentak hatiku begitu sakit. Cobaan apalagi yang menimpa saudaraku ini. Deras hujan sore ini dia tetap tegar menghadapi sebuah kehidupan kecil ini. Wanita bungsu itu sedang mengendarai sepeda motornya diderai hujan deras yang mengguyur kota Palembang. Hari itu terasa begitu gelap dan hening. Seketika dia melihat sang mama sudah terbaring tak bernyawa.

Hanya bermodalkan keyakinan. Setiap usaha yang aku kerjakan aku yakin mendapatkan apa yang aku inginkan. Mimpi itu terus kukejar walau kadang sulit kudapati di setiap usaha yang aku lakukan. Keyakinan yang terus papa tanamkan padaku dan kelima saudaraku telah menghantarkan aku sampai ke kota Bogor ini. Kota yang tak pernah aku bayangkan akan sampai ke sini. Berasal dari kedua orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Aku berharap mampu menjadi yang terbaik untuk mereka.

            Mungkin aku tak sehebat Thomas Alfa Edison atau sepintar B.J. Habibi tapi aku berusaha menjadi yang terbaik untukku dan untuk kedua orang tuaku. Dengan predikat juara I umum tingkat sekolah dasar aku yakin mampu bersaing saat SMP nanti. Dan aku membuktikan semua itu dengan diterimanya aku di SMA Negeri 3 Palembang. Hanya bermodalkan keyakinan dan tentunya atas kehendak-Nya prestasi itu terus kujalani hingga SMA. Kegemaranku mengasah otak dengan belajar matematika pun membawaku menjadi ketua WASIGMA (Wahana Siswa Gemar Matematika) saat di SMA. Teman-teman yang begitu solid juga membuatku semakin yakin bahwa aku akan tetap berprestasi dan menggapai semua harapan dan mimpi-mimpiku serta tentunya mimpi kedua orang tuaku. Aku percaya bahwa dimana ada kemauan pasti ada jalan.

            Kini aku semakin dekat dengan semua mimpi-mimpiku. Aku akhirnya diterima di Institusi Pertanian Bogor jurusan Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya. Sebuah kebanggan bisa sampai di kampus ini. Walaupun jurusan yang kupilih adalah pilihan dari papa. Tapi inilah jalan hidup, aku menyukainya dan aku tahu scenario Allah itu indah, bahkan lebih indah dari yang kita bayangkan. Aku ingat papa pernah berkata padaku, bahwa beliau akan menyekolahkan aku dan kelima saudaraku walaupun sulit, walaupun ekonomi sakit, walaupun harus irit. Ya, my father is my hero, beliau hanya lulusan SPMA yang memiliki keyakinan bahwa anak-anaknya pasti bisa jadi sarjana semua. Institut Pertanian Bogor, paling tidak memberikan sedikit senyum kecil dari wajah papaku. Aku mampu meneruskan cita-cita beliau. Suatu saat aku pasti akan melebarkan senyum indah dari wajah papaku, sebuah senyum kebanggaan, bahwa aku akan lulus kuliah dengan predikat coumloud. Amin… ya Rabbal Alamin